Inikah Indonesia ku ??? ( part 1 )
Kemaren Minggu 20 Mei 2007, seseorang bercerita kepada ku. Sebuah kisah yang patut untuk di teladani.
Seseorang itu [untuk nanti-nanti nya akan saya sebut “F” ] ikut UKM Marching band di UGM (dia sih ngaku nya zaman baheula, waktu F masih semester 2). F ikut Marching Band tersebut karena memang dia waktu SMA udah ikutan ekskul drum band jadi nya ia teruskan waktu kuliah.
Jadwal latihan Marching sangat lah ketat. Sehari mencapai 6 jam lebih. Di mulai dari jam 14.00 WIB sampai 18.00 WIB lalu jeda istirahat sebentar, sholat, makan, de el el lalu lanjut sampai pukul 22.00 WIB. Itu semua murni latihan, no OOT seperti ngobrol antar anggota satu dengan yang lain, atau topik gosip cewek [khas cewek lah...]. Semua nya kerja keras.
Pemain dalam marching di bagi menjadi 2 kelas yaitu kelas 1 dimana anggota nya adalah anggota yang sering hadir dan menguasai partitur lagu dsb dan kelas 2 yang beranggotakan orang-orang yang jarang hadir (F termasuk dalam kelas ini
)
Kisah drama terjadi waktu Marching UGM mengikuti kejuaraan. Di mana para pengurus Marching dan pelatih nya memutuskan untuk mengadakan semacam camp training yang di manfaatkan untuk media untuk menumbuhkan kecintaan loyalitas terhadap organisasi. Para pengurus tersebut mendoktrin selama training tidak boleh sama sekali keluar dari acara. Karena F tidak mempunyai motor maka F tidak mmepunyai pilihan lagi selain tetap stuck tinggal di camp.
Malam nya, ada acara semacam renungan dimana para anggota marching membentuk lingkaran dan anggota baik kelas 1 maupun kelas 2 nanti nya akan maju ke tengah2 lingkaran yang udah ada lilin nya dan bercerita apalah pokok nya yg berhubungan dengan diri nya dan marching.
Lalu ada satu senior cowok marching dimana ia masuk anggota kelas 2 dan giliran ia maju ia meminta maaf kepada rekan2 karena akhir2 ini ia jarang ikut marching. Ia mempunyai pacar dimana sang pacar juga ikut marching. Sang pacar tinggal bersama nenek nya dan karena keseringan pulang malam karena latihan marching akhirnya sang cewe tersebut di usir dari rumah. Karena di usir, otomatis sebagai pacar yang baik [ ehem.....Ada yang nge rasa gak ya ??] bertanggung jawab.
Sang cowo ikut mikirin gimana nasib si ceweknya untuk cari kos padahal kondisi cewek nya ga ada uang dan cowo nya juga ga ada uang. Akhirnya cowo nya memutuskan kerja cari uang untuk cewek nya. Itulah sebabnya mengapa dia jarang ikut marching.
Dia ketinggalan banyak materi padahal dia pemain inti. Dan ia merasa sangat bersalah apalagi tim nya akan masuk pertandingan kejuaraan nasional. Dan untuk menebus rasa bersalah nya, ia tetap bekerja untuk cewek nya sembari abis kerja (lepas jam 22.00 WIB) dia latihan marching sendirian sambil menghafal gerakkan atau partitur baru. Singkat nya dia cuma tidur sebentar, pagi kuliah+kerja, malam ber marching ria
Selama camp semua anggota benar2 latihan serius bahkan sampai pelatih nya radang tenggorok dan setiap habis latihan pasti selalu saja ada yang pingsan karena kelelahan. Tetapi setelah pingsan atau sedang sakit, tetap saja mereka mengutamakan marching. Jadi mereka beristirahat sebentar katakanlah pingsan hanya 15 menit, jadi benar2 15 menit istirahat setelah itu latihan lagi sampai pingsan lagi.
Ada juga anak kedokteran di mana pada saat hari gladi bersih ia tidak bisa datang karena ada responsi dan ia tetep ngotot pengen ikut kejuaraan dan akhirnya oleh anggota marching yang lain cuma di beri uang transport kereta untuk nyusul ke jakarta untuk bisa ikut pertandingan. Dan setelah responsi, ia menyusul ke jakarta bukan dengan kereta tetapi pake pesawat !! Pake uang sendiri !! yang ada di pikiran dia adalah ia mengejar materi dan gerakkan baru dalam marching.
Sesampainya di jakarta, ia hanya beristirahat 15 menit lalu ia langsung latihan sampai pagi tanpa istirahat sekalipun. Dia tidak mau mengecewakan tim nya (padahal setauku dia cuma tim kelas 2).
Teman saya F yang tadi nya orang nya tidak termotivasi, malas-malasan, organisasi sekedar ikut-ikutan atau penggembira saja menjadi terpacu. Memang pada akhirnya ia keluar dari marching karena kemudian ia sibuk kuliah, menjadi asisten dosen (dia memang jenius) tetapi dia mendapatkan sesuatu yang berharga dari perjuangan rekan2 nya di marching.
Semangat, loyalitas, rela berkorban, konsentrasi dan pengalaman serta bahu membahu antar anggota marching sangatlah ia kenang. Bukan hasil yang ia dapatkan tetapi proses yang berharga yang mmebuat ia menjadi menghargai orang.
Terilhami dari semangat marching, F berjuang…
Perjuangan F maupun rekan2 marching tidak sia-sia. UGM keluar menjadi juara 2 lalu F sekarang menjadi ketua BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa) Teknik UGM…
Jadi pelajaran yang di dapat dari kisah2 panjang di atas adalah proses yang begitu berharga yang tidak dapat di dapat dari hasil semalam (menyontek ala belajar mahasiswa yang SKS Sistem Kebut Semalam). Bahwa apa yang di dapat, apa yang terjadi sekarang ini semuanya proses, proses menuju untuk lebih baik.
Tentu nya proses tersebut harus di lalui dengan kerja keras, loyalitas, sungguh2, semangat dan saling menghargai. Tanpa itu semua maka hasil yang kita dapat sesungguhnya sia-sia
Cuma berpikir aja, andai semua orang Indonesia mempunyai at least yang aq sebutin di atas….
Semangat juang, kerja keras dan kekonsistenan…Itulah yang kebanyakaan orang Indonesia belum punya….Andai 3 kategori tersebut dominan di miliki orang Indonesia …..
Mungkin ga bakal ada KKN ya….yang jelas teknologi berkembang karena satu sama lain mendukung dan menghargai…Ga dodol kaya sekarang…Koneksi aja lemooottttt
ups….kok aq jadi “ga menghargai” koneksi yang lemot ya?
Note : makasih cerita nya ya Mon “Amie”…Alord…Qu’est ce tu fais ?Vouz travaillez moi?