GRUB menjadi ajang penarsisan diri
Akhir nya SEKIAN LAMA sudah tidak menyentuh dunia maya (baca : plus Mandriva ku sayang yang malang), saya menyempatkan diri untuk menyewa seperangkat PC (baca: warnet bo!!) untuk sekedar posting
Yang membuat saya geli adalah kemarin Jumat, 08 Juni 2007, seseorang yang biasa mengganggu saya di kala waktu senggang terpana melihat tulisan di bawah ini booting mesin kompie saya seperti ini :
Jadi ketika mesin saya booting, dia melihat tampilan GRUB Mandriva 2007 saya dengan output seperti di atas
Dia melongo (sayang saya tidak mengambil ekspresi wajah dia pada saat tercengang). Dia tanya kok bisa gitu ya. Saya lalu jelaskan bahwa saya hanya meng edit file /boot/grub/menu.lst Mandriva saya yang isi nya seperti ini :
title linux nya Enggar aguilera
kernel (hd0,6)/boot/vmlinuz BOOT_IMAGE=linux root=/dev/hda7 resume=/dev/hda9 splash=silent vga=788
initrd (hd0,6)/boot/initrd.img
title linux-nonfb
kernel (hd0,6)/boot/vmlinuz BOOT_IMAGE=linux-nonfb root=/dev/hda7 resume=/dev/hda9
initrd (hd0,6)/boot/initrd.img
title failsafe, aman aman
kernel (hd0,6)/boot/vmlinuz BOOT_IMAGE=failsafe root=/dev/hda7 failsafe
initrd (hd0,6)/boot/initrd.img
title Enggar Aguilera yang manis…
root (hd0,0)
makeactive
chainloader +1vdf
Saya jelaskan bahwa saya hanya mengubah title nya dimana title semula adalah title default system Mandriva. Lalu saya pamer demo Beryl dimana tampilan monitor saya meliuk-liuk kayak uler. Tambah bengong dia deh….
Karena dia bukan lah orang IT, maka dia bertanya apakah di XP bisa begitu, apakah kita bisa mengubah tampilan seperti misal kita mengubah title seperti di atas.
Lalu saya kembali ke XP saya dan menunjukkan deretan-deretan biner di System Registry dan saya jelaskan bahwa untuk meng edit biner-biner ini bisa saja tapi pake tool entah saya lupa nama nya dan untuk mencocokkan dimana misal title atau bootscreen nya atau apalah harus di pas kan dengan terjemahan heksa nya
Dia lalu berceletuk, Ih..kok Windows sulit ya…
Saya hanya tersenyum lalu perkataan dia membuat saya berpikir apakah Sistem Operasi yang ini sulit atau tidak, mudah atau sulit. Karena ketika saya memakai Mandriva, saya juga sering menemukan kesulitan seperti screen shot di bawah ini :
(Adakah yang tau apakah itu?
)
Saya hanya berpikir bahwa sesuatu hal apakah itu OS FOSS atau Proprietery itu sama saja. Hanya yang satu berlisensi dan penggunaan sangat harus komersil dan penuh dengan close code dsb sedangkan yang satu FREE, benar2 bebas dan kita berhak mengubahnya seperti prinsip GNU Public Lisensi.
Semuanya tergantung kebiasaan. Apakah kita terbiasa menggunakan teknologi ini atau tidak. Seperti contoh saya setting IP address di Mandriva dan XP. Hanya perintah ifconfig eth0 up 192.168.0.2 maka jadilah kompie saya ber IP sekian-sekian..Dan ketika saya balik ke XP, saya lupa perintah untuk tampilkan semua kemungkinan device card jaringan (padahal hanya beda “p” doang..
). Saya membutuhkan referensi dari internet untuk setting IP di XP (wakakakakakka)
yang saya tekankan di sini apakah kita terbiasa atau tidak, jadi ketika kita menyentuh katakanlah Debian versi jadul yang masih manual untuk setting mount point nya, jika kita terbiasa pegang Debian, mungkin kita akan berkata “Ah debian tuh enak kok…”
Dan lalu tanyalah kepada orang berbasis Red Hat maka dia akan bilang, “Ah Red Hat aja…Enak kok ( di kutip dari seseorang)
Lalu tanyakan juga pada orang yang belum tahu Linux maka dia akan berkata “Wah, Linux tuh sulit”
Sekali lagi yang mendoktrin kebanyakkan otak masyarakat kita adalah “KEBIASAAN” dimana belum ada nya niat untuk mencoba dan belajar..
Jadi jangan tanyakan sulit manakah antara OS FOSS dengan OS Proprietary ??
Sekali lagi tanyalah pada kebiasaan diri Anda sendiri…
Teman saya lalu bilang dengan muka bersemangat kalau suatu saat dia punya laptop, laptop dia harus di install Linux yang ada compiz atau Beryl nya dan dia harus bisa utak-atik jeroannya linux biar tampilan bootscreen nya kayak punya saya (wakakakakakkak)
Dan keesokkan hari nya saya baru ingat bahwa ada fitur di Microsoft Vista yang mirip Beryl..Well, saya tidak menganjurkan Vista kepada dia dan dia juga tetap terpengaruh untuk install Linux di laptop dia. Wakakakakkakak
enggaraguilera berkata,
Juni 10, 2007 pada 7:53 am
Wedew…ISeng – iseng ubah format kok malah jadi burem ga keliatan ya??
agung berkata,
Juni 11, 2007 pada 4:10 am
iya buremm… ga keliatan.. btw soal distro itu subjektif.. tapi sepertinya kita sekarang sudah seharusnya untuk tidak egois dengan distro masing2, karena akan menimbulkan kebingungan bagi pengguna. jadi saatnya ubuntunisasi… kayakne ngutif dari tulisan budi raharjo di infolinux nie
faithtear berkata,
Juni 11, 2007 pada 4:12 am
wuih.. selamat-selamat…
lagi-lagi proses marketing-nya sukses..